MAN ICLT(Humas)—Merdeka Belajar/kemerdekaan belajar merupakan upaya memberi kebebasan dan otonomi kepada lembaga pendidikan dan guru, serta siswa diberikan kebebasan untuk memilih bidang yang mereka sukai.
Apa itu Kurikulum Merdeka? Esensi dari Kurikulum Merdeka ini adalah Merdeka Belajar. Merdeka Belajar merupakan konsep yang dibuat agar siswa bisa mendalami minat dan bakatnya masing-masing. Misalnya, jika dua anak dalam satu keluarga memiliki minat yang berbeda, maka tidak dapat menggunakan tolak ukur yang sama untuk menilai kedua anak tersebut. Implementasi Merdeka Belajar merupakan terobosan Kemendikbud-ristek untuk menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul melalui kebijakan yang menguatkan peran seluruh insan pendidikan.
Mulai tahun pelajaran 2022/2023, sekolah dan madrasah memiliki opsi untuk menggunakan kerangka Kurikulum Merdeka, sebagai acuan untuk mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikannya. Berkaitan dengan hal tersebut, beberapa waktu yang lalu Waka Bidang Akademik MAN IC Lampung Timur, Kastono, M.Pkim. telah mengikuti sosialisasi kurikulum merdeka belajar bersama dengan para Kepala Madrasah dan Waka Akademik madrasah se-Provinsi Lampung yang berlangsung di Bandar Lampung. Selanjutnya Waka Akademik menyosialisasikan kurikulum merdeka ini kepada seluruh guru MAN IC Lampung Timur pada hari Jumat (17/6/22) di aula madrasah setempat.
Membuka acara sosialisasi tersebut, Kepala MAN IC Lampung Timur, Antoni Iswantoro, M.Ed mengungkapkan bahwa MAN IC Lamtim bersama MAN IC lainnya akan menerapkan Kurikulum Merdeka Tahun Pelajaran 2022/2023 bagi kelas X tanpa penjurusan. “Ini suatu hal baru, yaitu kurikulum baru, untuk itu mari kita semua belajar, khususnya bagi para guru demi kesuksesan terlaksananya implementasi kurikulum merdeka ini di tahun ajaran baru mendatang,” ungkap Antoni.
Saat menyampaikan materi tentang kurikulum merdeka, Kastono menyampaikan tentang alasan dan tujuan akan diterapkan kurikulum merdeka di MAN IC Lamtim. “Jika kita ingin guru berfokus pada pembelajaran murid, cakupan kurikulum harus dibatasi pada materi yang memang esensial, kedalaman proses mensyaratkan pengorbanan dalam keluasan materi, inilah yang menjadi salah satu prinsip utama perancangan Kurikulum Merdeka,” ungkapnya.
“Dengan berfokus pada materi esensial, Kurikulum Merdeka bisa memberi waktu khusus bagi pembelajaran berbasis proyek, ini merupakan pembelajaran lintas mata pelajaran yang berorientasi pada pembuatan karya atau pemecahan masalah nyata secara kolaboratif,” tambah Kastono.
Berlangsung selama kurang lebih dua jam, sosialisasi berjalan lancar dengan diskusi interaktif antara guru dengan pemateri. Diharapkan pembelajaran dengan kurikulum merdeka ini dapat mengasah kepedulian sosial, menumbuhkan toleransi, melatih komunikasi, dan kerja sama yang secara berkesinambungan dapat meningkatkan kualitas pendidikan di madrasah ataupun sekolah. *(Syaifudin/Tim Humas)