MAN ICLT (Humas) — Pembelajaran di madrasah sangat memungkinkan untuk memperkenalkan dan membentuk generasi yang moderat. Pemahaman tentang moderasi beragama menjadi modal berharga agar pelajar tumbuh menjadi generasi yang bisa menghormati perbedaan, karena dalam kehidupan terdapat banyak perbedaan yang harus diterima dengan baik. Jika semua generasi muda telah tumbuh menjadi generasi yang menghormati perbedaan, maka bisa menjadi salah satu cara untuk mencegah paham radikalisme dan sikap ekstrem.
Sehubungan dengan hal tersebut, MAN IC Lampung Timur mengadakan sosialisasi moderasi beragama bagi siswa angkatan ke 5 yang dilaksanakan di aula madrasah, Selasa (12/9/2023) pukul 10.00 s.d. 14.00 WIB. Sosialisasi ini diikuti oleh seluruh siswa kelas x dan sebagai narasumber Kepala MAN IC Lamtim, Antoni Iswantoro, M. Ed.
Acara diawali dengan pembukaan yang dipimpin langsung oleh moderator Waka Sarpras, Ahdi Akbar Arasy, S.Pd., yang didampingi oleh Pembina Asrama, Ustadz Ridwan Sururi, M.Pd. Usai pembukaan, acara dilanjutkan dengan presentasi materi oleh narasumber. Dalam pemaparannya, Kamad MAN IC Lamtim selaku narasumber menjelaskan tentang urgensi moderasi beragama dan 9 kata Kunci Moderasi Beragama.
“Moderasi Beragama merupakan perekat antara semangat beragama dan komitmen berbangsa. Di Indonesia, beragama pada hakikatnya adalah ber-Indonesia dan ber-Indonesia itu pada hakikatnya adalah beragama. Moderasi beragama menjadi sarana mewujudkan kemaslahatan kehidupan beragama dan berbangsa yang harmonis, damai dan toleran sehingga Indonesia maju.”ungkapnya.
Beliau juga menyampaikan bahwa “Ada 9 (Sembilan) kata kunci moderasi beragama yakni kemanusiaan, kemaslahatan umum, adil, berimbang, taat konstitusi, komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan dan penghormatan terhadap tradisi’’lanjutnya.
Pada materi ini, peserta dibagi dalam beberapa kelompok dan diberikan kesempatan mendiskusikan terkait sembilan kata kunci moderasi beragama tersebut kemudian mempresentasikannya. Acara ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman mereka tentang berbagai perbedaan yang ada di masyarakat. Di sesi terakhir ada penyerahan doorprize bagi peserta yang bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh narasumber.
Kegiatan berlangsung lancar, dan diharapkan kegiatan ini dapat meningkatkan dan memperkuat pemahaman siswa tentang konsep moderasi beragama secara benar, mengajak para siswa menjadi pembelajar yang moderat. Perbedaan seharusnya tidak dilihat sebagai hal yang memecah belah, tetapi harus dilihat sebagai sebuah anugerah karena Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda. Dengan demikian terciptalah lingkungan madrasah yang aman dan damai jauh dari sikap-sikap radikalisme.*
Kontributor : Rahmat/Tim Humas